MENGENAI ERA DISRUPSI
Kalian tahu nggak apa itu era disrupsi?
Bagi yang udah tau boleh lah sharing di komentar. Tapi bagi yang belum tahu kalian bisa nih baca tulisan ini. Meskipun banyak kurangnya setidaknya bisa memberi pengetahuan dan informasi tambahan mengenai apa itu era disrupsi. Kuy dibaca :)))
Bagi yang udah tau boleh lah sharing di komentar. Tapi bagi yang belum tahu kalian bisa nih baca tulisan ini. Meskipun banyak kurangnya setidaknya bisa memberi pengetahuan dan informasi tambahan mengenai apa itu era disrupsi. Kuy dibaca :)))
PUDARNYA
EKSISTENSI PARA INCUMBENT DI ERA DISRUPSI
Oleh: Dwi
Aprilia Pavilawati G71216064 (7B)
Steve
Jobs menjelaskan bahwa jika perekonomian suatu negara berpotensi untuk meningkat,
namun kegiatan usaha yang dijalankan masyarakat mengalami kemunduran, maka hal
demikian menjadi pertanda terdapat lawan-lawan baru (new entrant) yang tak kasat mata mulai memasuki pasar. Mereka
tumbuh dengan “eksponensial” tanpa disadari oleh para incumbent yang merangkak secara linear. Fenomena tersebut wajib untuk dikaji dengan mengimplementasikan
ilmu pengetahuan baik yang bersifat praktis ataupun teori guna menciptakan dan
mengembangkan suatu kebaruan.
Pernyataan
singkat Steve Jobs di atas mendeskripsikan adanya perubahan dalam struktur
perekonomian makro. Suatu revolusi yang menghadang berbagai merk dagang dan
pemilik reputasi bisnis yang sulit digoyahkan pada masanya. Bisnis yang
memiliki skala besar dalam penguasaan aset, tenaga kerja, hingga lingkup
operasional. Bahkan menjadi ancaman utama bagi pengusaha baru untuk memasuki
pasar, terutama bagi mereka yang terkendala dalam aspek permodalan.
Namun, seiring berjalannya waktu kini tibalah
para incumbent merasakan pahitnya berada
di titik bawah. Menyaksikan pertumbuhan “pemain baru” untuk berlaga merebut
eksistensi pasar. Incumbent atau
pemain lama cenderung bersikap kurang waspada terhadap perubahan. Mereka mudah
terlena dan menganggap bahwa model bisnis yang ditekuni selalu berlaku tanpa melakukan
perbaikan kinerja. Seperti halnya yang terjadi pada raksasa perusahaan telepon
genggam asal Finlandia “Nokia”.
“We
didn’t do anything wrong, somehow, we lost” menjadi ucapan terakhir yang
keluar dari Stephen Elop ketika konferensi pers pelepasan Nokia kepada
Microsoft pada 2014 silam. Microsoft berhasil mengakuisisi bagian handset Nokia dengan nilai valuasi sebesar
7,2 miliar dollar AS. Sejak saat itu, berakhirlah era kejayaan Nokia. Samsung
dan Iphone muncul sebagai pemimpin baru dalam peradaban komunikasi dunia. Ditambah
lagi dengan keberadaan Vivo, Huawei, Xiaomi, Realme, hingga Oppo yang semakin
memperketat kompetisi bisnis.
Pudarnya Nokia dalam dunia perdagangan merupakan
suatu kewajaran. Ketika pengusaha tidak mampu melakukan inovasi yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, maka mereka tidak dapat bertahan menghadapi
kuatnya gejolak persaingan. Peristiwa “seleksi alam” yang
dialami Nokia dipicu oleh minimnya pengembangan produk. Fitur-fitur yang
tersedia dalam smartphone mampu
meredupkan kekuatan Nokia sebagai incumbent
dalam pasar. Terlebih lagi muncul ungkapan baru jika smartphone telah menjadi kebutuhan primer masyarakat millenials. Kondisi demikian disebabkan karena
segala aktivitas keseharian tak lepas dari peranan smartphone. Misalnya pengiriman form
lamaran pekerjaan secara online melalui
gmail, pengunduhan aplikasi sosial media melalui Google Play Store, hingga penyediaan fitur yang digunakan untuk
berdagang secara digital. Rendahnya kapasitas RAM (Random Access Memory) maupun keterbatasan aplikasi pada Nokia tidak
mampu melampaui pergerakan tren positif dari penggunaan smartphone.
Pihak
eksekutif Nokia pun berusaha menelaah keunggulan brand-nya dengan cara membina korelasi dengan Microsoft yang
tertarik dengan software windows phone. Akan
tetapi, solusi tersebut malah menjatuhkan Nokia. Hubungan kerja sama dengan
Microsoft tak berangsur membaik. Walaupun Nokia sempat menghadirkan produk baru
yang serupa dengan fitur smartphone, namun
usaha tersebut tidak mampu mengembalikan kekuatan masa lalu di era disrupsi ini.
Era
disrupsi merupakan era berkembangnya berbagai inovasi berbasis kemajuan
teknologi dalam bentuk Internet of Things.
Dunia memasuki gelombang smart device
yang memacu kita untuk hidup dengan varian karya kolaboratif. Pada era
disrupsi sekarang, perniagaan melalui dunia maya semakin maju dan intens.
Bahkan kesempatan tersebut didayagunakan untuk bersaing dengan para incumbent maupun korporasi raksasa
dengan cara menyasar pada konsumen tingkat menengah ke bawah.
Konsep
disrupsi diperkenalkan pertama kali oleh Clayton Christensen (1997). Beliau
menerangkan bahwa era disrupsi perlahan menggantikan pasar lama yang kurang
relevan dan menghasilkan sesuatu yang baru, praktis, hingga kreatif. Hal ini
diperdalam dengan kutipan beliau dalam Renald Kasali (2018) yakni ”The
Concept of disruption is about competitive response. It’s not about theory of
growth. It’s adjacent to growth. But it’s not about growth”.
Meskipun
konsep disrupsi tidak berkutat pada teori pertumbuhan ekonomi secara langsung,
namun dengan menanggapi perubahan yang terjadi akan mempengaruhi perkembangan
ekonomi agregat. Maka, untuk mencapai keberhasilan ekonomi tersebut diperlukan
beberapa aspek seperti disruptive regulation,
disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing. Tujuannya adalah agar meningkatkan daya responsivitas
masyarakat untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman dan meminimalisir terjadinya
culture shocks.
Menelisik
pada kasus Nokia sebelumnya, era disrupsi menjadi masa mulainya kehancuran bagi
incumbent yang sulit bersaing dengan new entrant. Tidak optimumnya upaya
untuk berinovasi dalam mengembangkan produk, pemasaran yang tidak efisien,
stagnasinya regulasi yang berlaku, hingga kesalahpahaman dalam merespon dinamika
kebutuhan masyarakat menjadi tumbangnya eksistensi Nokia dalam pasaran komunikasi
dunia. Ancaman yang timbul dari era disrupsi tentu tidak dirasakan oleh “pemain
lama” yang cerdas dan tanggap dalam berinovasi.
Era
disrupsi ditandai dengan beberapa poin penting. Pertama. Teknologi mampu merubah masyarakat
dari peradaban konvensional yang identik dengan time series dan linear menjadi peradaban baru yang cenderung real time dan eksponensial. Time series atau deret berkala
menginterpolasi data masa lalu guna memprediksi prospek masa depan. Sementara
itu pada peradaban real time, data
hari ini secara otomatis akan terolah dalam big
data untuk disimpulkan dan ditindaklanjuti. Terdapat banyak hal bentuk
perwujudan peradaban real time dan
eksponensial dalam kehidupan sehari-hari.
Di
masa lampau, ketika seseorang ingin melihat sebuah video atau film harus membelinya
dalam format betamax dan hanya bisa diputar melalui DVD Player. Video yang
dinampakkan hanya terbatas sesuai dengan daftar pada kemasan. Namun tak
terbayangkan di awal tahun 2005, tiga mantan karyawan PayPal yang tediri atas
Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim menciptakan sebuah situs web berbagi
video yang dinamakan Youtube. Tanpa DVD Player, kita dapat menyaksikan berbagai
video dalam kualitas tampilan terbaik di Youtube dengan mudah melalui smartphone dan kecepatan internet.
Youtube
juga dimaknai sebagai jejaring media sosial yang memberikan fasilitas pada
konsumen guna mengunggah video kreativitas ke dalam channel-nya. Semakin menarik konten yang dibuat, akan mendatangkan viewer dan subscriber dalam jumlah tertentu. Saat era disrupsi berlangsung, masyarakat
lebih tertarik menonton tayangan di Youtube daripada melihat program-program pertelevisian.
Hal ini dibuktikan dengan riset yang dilakukan oleh CEO Google, Sundar Pichai.
Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa jumlah rumah tangga di Amerika
Serikat menggunakan smart television untuk
mengakses Youtube meningkat sebesar 70% dan ditonton selama hampir 100 juta per
hari. Mereka tidak sekadar mencari hiburan, melainkan menjadikannya sebagai
media penambah wawasan keilmuan yang tidak mereka dapatkan selama menjalani
sistem pendidikan formal.
Melihat
peluang tersebut, maka bagi sebagian orang akan menggunakannya untuk mendatangkan
penghasilan dengan bermodalkan kreativitas mengedit video dan ide pembuatan
konten menarik yang digandrungi viewer.
Malahan tak sedikit iklan yang bergulir di channel
Youtuber dengan viewer dan subscriber terbanyak, misalnya pada
saluran Youtube yang dimiliki salah satu anggota dari keluarga Gen Halilintar.
Siapa
yang tak kenal dengan Atta Halilintar? Seorang YouTuber Indonesia yang khas
dengan dialek “Ahsiap!!!” ini memperoleh pendapatan dari hasil kreativitas
videonya seperti vlog, rap, challenge, ataupun
prank. Berdasarkan pada data Purple Moon
Promotional Product, dengan jumlah subscriber
sebanyak 18.814.182 Atta Halilintar berhasil masuk dalam jajaran 10 besar
YouTuber terkaya dengan pendapatan sebesar 1,3 juta poundsterling per bulan
atau setara dengan Rp22,4 miliar. Estimasi penghasilan per tahun diperkirakan sekitar
Rp269 miliar. Pencapaian tersebut berhasil menempatkannya dalam peringkat ke-8 daftar
Youtuber terkaya di dunia dan hampir mengalahkan YouTuber asal Amerika Serikat
Collins Key dengan pendapatan 1,7 juta poundsterling per bulan.
Melihat
prestasi YouTuber Atta Halilintar (terlepas dari kontroversial) di atas
menunjukkan bahwa era disrupsi menuntut kita untuk semakin kreatif dalam
memperoleh pendapatan. Tentunya dilakukan dengan cara yang berbeda dengan
kompetitor. Munculnya YouTuber tersebut mengindikasikan bahwa informasi di
Youtube dinilai lebih menarik dibandingkan yang tertuang di televisi. Segala informasi
di Youtube dapat terakses dengan mudah dan bervariasi tergantung pada apa yang
kita searching. Berita aktual,
pendidikan, kesehatan, fashion, kuliner, dan sebagainya menjadi himpunan ilmu
penting yang mungkin tidak kita dapatkan di televisi maupun sumber informasi
lainnya. Melalui Youtube, kita mampu menambah wawasan dan pengetahuan positif
agar tidak ketinggalan zaman. Inilah
hasil dari peradaban disrupsi yang semakin cepat mengalami perubahan dan berhasil
menggeser popularitas incumbent televisi
dalam dunia hiburan.
Kedua.
Ekonomi berbagi (sharing economy). Jika
di masa lalu saat wiraswasta ingin membuka usaha baru, mereka harus memiliki
aset seperti peralatan dan perlengkapan berbisnis. Kini siapapun yang siap
menekuni usaha tidak harus menyediakan peralatan maupun perlengkapan sendiri.
Pihak yang terlibat dalam usaha tersebut dapat mentransformasikan barang konsumsi
menjadi lebih produktif. Perombakan di dunia transportasi menjadi contoh nyata
dari makna ekonomi berbagi. Misalnya yang terjadi pada taksi konvensional (Blue
Bird dan Taksi Express) dengan taksi digital (GO-JEK dan Grab).
Blue
Bird di Jakarta berusaha keras untuk mengalahkan Grab maupun GO-JEK dalam
persaingan bisnis. Upaya tersebut berdampak pada kerusuhan antara 2014 hingga
2016 lalu. Ketakutan akan kehancuran bisnis menjadi latar belakang pertarungan
tersebut. Konflik perekonomian ini bermula ketika laba bersih yang diperoleh
perusahaan taksi terbesar di Indonesia mengalami penurunan secara drastis pada September
2016. Blue Bird mengalami penurunan laba bersih sebesar 42,3% yaitu dari
Rp629,1 miliar menjadi Rp306,8 miliar. Hal serupa terjadi dengan Taksi Express
yang sebelumnya memperoleh laba bersih senilai Rp11,8 miliar dan harus menanggung
kerugian bersih sebesar Rp81,8 miliar.
Nasib
yang berbeda dengan pendatang baru, yakni kedua decacorn GO-JEK dan Grab. Mereka mengalami keuntungan dan ditunjang
dengan penguatan eksistensi di mata konsumen millenials. Uniknya mereka tidak memiliki armada sama sekali,
melainkan menjalin kerja bersama dengan 200 ribu pengemudi kendaraan pribadi.
Bahkan sekarang distribusi GO-JEK dan Grab telah memasuki area yang sempit. Seperti
yang terjadi pada Kecamatan Balongbendo. Tempat yang jauh dari pusat ekonomi
Jawa Timur ini mampu mendatangkan peluang tersendiri untuk menciptakan pasar jasa
berbasis digital.
Meskipun
mereka tak memiliki kendaraan resmi seperti halnya Blue Bird dan Taksi Express,
rupanya Tech Crunch pada Juni 2016 berhasil melaporkan kajian mengenai valuasi
perusahaan tersebut. Nilai valuasi Grab diketahui sebesar 1,6 miliar dollar AS
atau setara dengan Rp20 triliun. Sedangkan nilai valuasi GO-JEK adalah sebesar
1,3 miliar dollar atau Rp17 triliun. Kondisi ini berbeda dengan nilai valuasi
yang didapatkan perusahaan Blue Bird yakni senilai Rp9,8 triliun. Padahal dari
segi aset, Blue Bird memiliki 27 ribu taksi reguler, ribuan taksi eksekutif,
dan limosin. Bahkan kedua decacorn
tersebut berhasil mengalahkan nilai valuasi Garuda Indonesia (1947) yang
mengoperasikan hampir 200 pesawat terbang, yaitu sebesar Rp12,3 triliun.
Ketiga.
On demand
economy (ketika diinginkan,
cepat tersedia). Mengacu pada kasus GO-JEK dan Grab di atas, kedua inovasi
bisnis tersebut menerapkan konsep permintaan yang cepat sampai ke konsumen.
Mereka tidak hanya berfokus pada antar jemput penumpang, melainkan jasa lainnya
seperti layanan pesan antar makanan. Ketika konsumen menekan fitur go food atau grab food, maka pilihan makanan yang dipesan langsung tersedia
beserta alamat restoran yang dipilih. Harga makanan pun juga sudah tertera di
aplikasi. Melalui pantauan dari GPS (Global
Positioning System), konsumen dapat mengetahui posisi dari driver yang bertugas. Kecanggihan yang
diberikan aplikasi tersebut memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sesuai
dengan prioritas anggaran.
Keempat. Permintaan dan penawaran dalam jejaring. Era
disrupsi tidak lagi berfokus pada kurva penawaran-permintaan secara tunggal,
melainkan dalam skala yang agregat. Aplikasi yang tercipta saat ini menjadi
jejaring yang menghubungkan banyak orang. Hal ini tidak hanya diimplementasikan
oleh GO-JEK dan Grab saja, melainkan pada marketplace
berbelanja digital.
Aplikasi Shopee merupakan salah satu
contoh dari pemenuhan permintaan- penawaran pasar secara menyeluruh dengan
model consumer to consumer. Marketplace tersebut mampu mempertemukan
berbagai konsumen dan produsen dari penjuru wilayah. Beragam produk dan
pelayanan yang dinilai dengan komentar maupun pemberian bintang dari konsumen
merupakan wujud penawaran secara kompleks. Platform
perdagangan elektronik yang berkantor pusat di Singapura ini mampu
menggeser eksistensi dari toko offline melalui
berbagai penawaran promosi yang menarik pembeli.
Terakhir. Lawan non transparan. Ketika Adam Smith
memperkenalkan konsep “the invisible hand”,
era disrupsi memperlihatkan adanya kompetitor tak nampak. Mereka memasuki
sasaran konsumen utama dan bergerak mengikuti permintaan masyarakat. Misalkan
pada GO-JEK dan Grab dengan karakteristik kendaraan tak bertuliskan merk, tidak
berbendera seperti taksi konvensional, tidak berplat kuning, dan hanya
beridentitaskan nama aplikasi pada jaket dan helm driver, pasar jasa online pun
tetap terbentuk melalui pesatnya teknologi. Permintaan dan penawaran terjadi
hanya dengan menekan fitur sesuai keinginan dan kebutuhan.
Berbagai fenomena di atas memperlihatkan
bahwa era disrupsi semakin lama mampu memudarkan eksistensi para incumbent. Bagi pemain baru atau new entrant dapat berkontribusi dalam
memajukan perekonomian melalui usaha rintisan berbasis digital. Pentingnya
penggunaan teknologi dalam berbisnis memang tidak dapat dipisahkan di era disrupsi.
Sebab masyarakat sudah seharusnya menjalankan hidup di peradaban modern ini
dengan tingkat efisiensi yang tinggi, yakni memprioritaskan perkembangan
teknologi untuk menuntaskan segala pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari
menjadi lebih bernilai ekonomis. Keberadaan
incumbent di era disrupsi bukan berarti tidak memiliki peranan penting, namun
dapat bersinergi dengan new entrant untuk
memajukan ekonomi bangsa, terutama dalam penciptaan kesempatan kerja baru.
Catatan:
Sebenarnya sih ini tugas UTS Mata Kuliah Seminar Ilmu Ekonomi semester 7. Berhubung udah dinilai jadi lega bisa sharing di sini. FYI jangan lupa liburan ya biar bahagia....



Comments
Post a Comment