MODAL SOSIAL DALAM ILMU EKONOMI



MANIFESTASI MODAL SOSIAL DALAM GERILYA USAHA: STUDI KASUS PENGUSAHA TAOGE DESA PENAMBANGAN, BALONGBENDO
OLEH: DWI APRILIA PAVILAWATI (G71216064)
Taoge merupakan tumbuhan muda yang berkembang biak dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan taoge disebut dengan perkecambahan. Kata taoge sendiri merupakan serapan dari dialek Hokkian, istilah Mandarinnya adalah douya yang secara harfiah adalah kecambah kacang-kacangan. Nama latin taoge adalah Vigna Radiata dengan klasifikasi ilmiah: Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Fabales, dan Famili Fabaceae. Persyaratan pembuatan taoge tergolong mudah. Dibutuhkan biji-bijian seperti kacang hijau yang sehat, tidak busuk, bersih dari kandungan bahan kimia pestisida, dan membutuhkan kadar air yang cukup untuk membantu pertumbuhan taoge. Khasiat taoge sebagai bahan makanan ada beragam, seperti kadar lemak yang rendah, kaya vitamin C dan E, memiliki folat dan protein yang meminimalisir risiko timbulnya penyakit kardiovaskuler, mengandung fitoestrogen yang membantu kesuburan pada wanita yakni meningkatkan hormon estrogen, mengurangi risiko dari kanker payudara, gangguan menjelang menstruasi, hingga mengurangi risiko terkena artritis. Selain berkhasiat sebagai bahan pangan, taoge difungsikan sebagai makanan sapihan yang khusus diformulasikan untuk bayi berusia 3-9 bulan. Tujuannya adalah untuk membantu bayi mengalami masa transisi dari mengonsumsi susu menjadi mengonsumsi makanan padat.
Persyaratan pembuatan taoge yang mudah dan mengandung fungsi yang multikompleks terhadap kesehatan tubuh menjadi daya tarik dan motivasi bagi pengusaha untuk mengelola taoge. Salah satu sentra pengembangan usaha taoge terletak di Desa Penambangan. Penambangan merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan Desa Wonokarang (Barat), Desa Bogempinggir (Utara), Desa Bakalan (Selatan), dan Desa Balongbendo (Timur). Usaha pengembangan taoge di Desa Penambangan dijalankan oleh sebagian masyarakat setempat. Lokasi yang berdekatan dengan Pasar Surungan (Balongbendo) menjadikan budaya masyarakat dalam mencari pendapatan dengan berdagang, seperti halnya dengan memproduksi taoge. Beberapa produsen taoge yang sudah dikenal masyarakat Penambangan adalah Bapak Nanang, Bapak Arifin, Bapak Tono, dan Bapak Lim.
Usaha pengolahan taoge di Desa Penambangan menjadi strategi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Kegiatan ini adalah implementasi dari Teori Pertumbuhan Ekonomi Schumpeter yang mengatakan bahwa “peranan pengusaha sangat penting atau vital dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi”. Kontribusi pengusaha dalam  pertumbuhan ekonomi dapat mencapai sebesar 2,5% dari jumlah penduduk (6,13 juta orang) di Indonesia.  Schumpeter berdalih jika pengusaha dalam jangka panjang akan memiliki insting untuk melakukan inovasi bagi usahanya dan meningkatkan keuntungan yang diperoleh. Inovasi yang dilakukan seorang pengusaha tidak hanya seputar rasa dan kegunaan, melainkan pada peningkatan efisien dan efektivitas proses produksi yang berorientasi mendapatkan profit optimal. Kacang hijau menjadi sumber daya alam yang melimpah dan memiliki nilai lebih jika melalui campur tangan pengusaha, terutama jika diolah menjadi taoge yang menjanjikan keuntungan besar. Konsumen menyukai olahan kacang hijau berasa manis seperti kue onde-onde maupun bubur, namun konsumen juga menginginkan olahan kacang hijau sebagai bahan pelengkap pada makanan berasa gurih seperti rawon, soto, ataupun pecel. Sehingga untuk menjalankan inovasi tersebut pengusaha membutuhkan tambahan modal sebagai stimulus pelancar usaha, terutama modal sosial yang mengandung adanya pergerakan mobilitas ide positif dan merangsang perolehan sumber daya baru yang dibutuhkan. Modal sosial dapat menjadi koneksi pihak yang saling berkontribusi dalam mempengaruhi perubahan pola konsumsi dan tabungan yang dihasilkan akibat peningkatan pendapatan. Pada muaranya berujung pada peningkatan nilai  pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Secara istilah, modal sosial merupakan sumber daya sosial yang dapat dijadikan sebagai sumber investasi untuk mendapatkan sumber daya lain dalam masyarakat untuk mengembangkan suatu usaha. Walaupun modal sosial erat kaitannya dengan ilmu sosiologi, namun ilmu ekonomi juga tetap membutuhkan modal sosial dalam kajiannya. Sebab, modal sosial dapat berkaitan dengan komunitas, masyarakat sipil, maupun kelembagaan yang berlaku di masyarakat. Menurut Putnam dan Fukuyama, modal sosial memiliki karakteristik khusus. Putnam menyebutkan bahwa modal sosial adalah gambaran organisasi sosial, seperti jaringan dan kepercayaan yang memfasilitasi adanya koordinasi dan kerja sama bagi keuntungan bersama. Sedangkan Fukuyama mendemonstrasikan modal sosial sebagai kemampuan yang timbul dari kepercayaan dalam sebuah komunitas (Mustofa, 2013: 3).
Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan bahwa modal sosial menjadi sarana mencari informasi mengenai solusi permasalahan ekonomi. Pengangguran misalnya. Agustus 2017 jumlah pengangguran naik menjadi 7,04 juta jiwa (Julianto, 2017, Agustus 2017, Jumlah Pengangguran Naik Menjadi 7,04 Juta Orang, https://ekonomi.kompas.com; diakses 9 April 2018). Kondisi demikian melahirkan peluang bisnis  untuk peningkatan produk bagi pengusaha taoge  di Desa Penambangan. Para produsen dapat merekrut tenaga kerja baru untuk mengurangi angka pengangguran. Selain itu, usaha pengolahan taoge di Desa Penambangan merupakan rintisan usaha warisan keluarga sehingga tidak menimbulkan kesulitan manajemen yang berarti dalam menjalankannya. Seperti halnya Bapak Nanang melanjutkan usaha ibu mertua (Ibu Pauwan sejak tahun 1968) yang memproduksi ±139 kg taoge per hari yang didistribusikan di Pasar Perning Jetis sehingga membutuhkan tiga pekerja untuk membantu pengemasan dan pemisahan antara taoge yang baik atau buruk dengan upah Rp25.000,00. Lain halnya dengan Bapak Lim, Bapak Tono dan Bapak Arifin yang memproduksi dalam kisaran masing-masing 35 kg, 87,5 kg, dan 157,5 kg taoge per hari.
Modal sosial memiliki indikator untuk mempelancar roda bisnis pengolahan taoge. Ridell menyebutkan beberapa indikator yang mewakili modal sosial, antara lain jaringan, kepercayaan, dan norma (Mustofa, 2013:3).
Pertama. Jaringan merupakan suatu rangkaian hubungan sosial yang memiliki timbal balik dan terjalin dalam suatu kegiatan yang dilakukan individu maupun kelompok. Jaringan ini menjadi media komunikasi dan interaksi yang melahirkan kepercayaan dan kekuatan suatu kerja sama (kolektif). Bentuk-bentuk koneksi atau korelasi dalam organisasi dapat mempengaruhi pertukaran ekonomi. Misalnya hubungan kekerabatan yang baik mampu menghasilkan simbiosis mutualisme dalam pertukaran informasi pekerjaan yang layak. Apabila dihubungkan dengan pengembangan usaha taoge di Penambangan, jaringan ini memiliki beberapa koneksi yang multikompleks. Beberapa jaringan yang terlibat diantaranya jaringan dengan pemerintah, jaringan dengan perbankan, jaringan dengan kerabat, jaringan dengan pemasok, dan jaringan dengan konsumen.
Peran jaringan pemerintah adalah pemerintah mencoba mendorong minat kewirausahaan masyarakat melalui industri kreatif atau UMKM. Pemerintah memiliki program dengan menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp120 Triliun dengan bunga 7% di tahun 2018. Dengan demikian diharapkan agar masyarakat Indonesia, terutama produsen taoge di Desa Penambangan untuk tetap mengembangkan pengolahan kecambah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi sekitar. Pada ujungnya, imbauan pemerintah ini mampu menambah pemasukan negara berupa pajak bagi pembangunan infrastruktur maupun kemanusiaan.
Pengembangan usaha taoge yang berujung peningkatan profit membawa peluang bagi produsen untuk mengembangkan usaha yang dirintisnya. Sehingga produsen membutuhkan suntikan modal yang lebih besar untuk meningkatkan usahanya, seperti memperbanyak kuantitas output, penambahan tenaga kerja, hingga membeli investaris untuk produksi (mesin, kran besar, dan menambah daya listrik). Maka di sinilah peran jaringan perbankan untuk mewujudkan peluang itu. Produsen dapat meminjam modal yang terjalin dalam KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tambahan modal yang didapatkan diharapkan mampu menciptakan kegiatan produktif. Lembaga perbankan menyukai kredit produktif sebab perputaran uang melaju dengan stabil dan  meminimalisir kredit macet.
Jaringan kekerabatan juga menjadi peran vital dalam pengembangan usaha taoge di Penambangan. Para produsen taoge yang telah disebutkan di atas memiliki paguyuban yang terikat hubungan darah. Maka tak heran memiliki bisnis serupa sebagai upaya melestarikan warisan keluarga turun-temurun. Situasi demikian menjadi pergerakan romantis dalam memperluas interaksi, metode penyerapan tenaga kerja, hingga teknik produksi yang efisien. Bahkan menjadi wadah informasi untuk menentukan pangsa pasar baru.
Jaringan antara pemasok dengan produsen perlu mendapatkan perhatian. Jaringan pemasok merupakan jaringan langganan pemasok bagi produsen pengolah taoge di Desa Penambangan. Jaringan ini berperan dalam memudahkan produsen untuk membeli bahan-bahan keperluan usaha (bahan baku berupa kacang hijau). Hubungan antara produsen dan pemasok terjalin jaringan yang erat karena adanya pertukaran ekonomi yang memuncak pada simbiosis mutualisme. Dengan rasional yang tinggi, produsen membutuhkan bahan yang murah dengan kualitas baik untuk produksi dari pemasok langganan sehingga melahirkan opportunism (peluang) dari kerjasama transaksional tersebut.
Jaringan antara produsen dengan konsumen juga tak kalah penting dari jaringan yang terjalin di atas. Konsumen menjadi pihak yang memberikan daya dukungan terhadap produsen untuk senantiasa bekerja dan berusaha serta berinovasi. Produsen tidak berarti apapun tanpa konsumen, bahkan sebaliknya. Media elektronik maupun nasihat temurun dari orang tua menyatakan bahwa taoge memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh. Hal itulah yang mendorong permintaan taoge semakin meningkat. Semakin tinggi permintaan taoge, maka menjadi peluang bagi produsen taoge khususnya di Penambangan untuk berproduksi dalam kuantitas besar yang diiringi dengan kualitas terbaik. Penambahan permintaan taoge tidak dapat dipungkiri atau secara tidak langsung membuat seorang produsen berhubungan dengan beberapa kelembagaan di atas (pemerintah, perbankan, kekerabatan, hingga pemasok) yang memberikan feed back untuk berusaha. Perekrutan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh konsumen yang menghendaki pertambahan kuantitas taoge yang diproduksi.
Kedua. Kepercayaan menjadi indikator yang mewakili modal sosial. Menurut Fukuyama, kepercayaan merupakan harapan atau prediksi yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat yang ditunjukkan adanya perilaku jujur, teratur, dan kerja sama (kolektif) berdasarkan norma yang dianut dan disepakati bersama. Berbeda dengan Putnam, bahwa rasa percaya merupakan suatu bentuk keinginan dalam mengambil risiko dalam jalinan sosial yang didasari oleh perasaan yakin yang lain akan melakukan hal yang sama atau yang diharapkan, dan selalu bertindak pada suatu pola tindakan yang saling bersinergis (mendukung). Dengan kata lain, individu dalam struktur sosial yang baik dan teratur dengan sikap kepercayaan ideal memiliki modal sosial yang tinggi.
Apabila dikaitkan dengan pengembangan usaha taoge di Desa Penambangan, aspek kepercayaan dalam peranan modal sosial ditunjukkan dengan keyakinan atas  pemberian kredit oleh perbankan, bentuk kepercayaan kinerja tenaga kerja, kepercayaan dengan pemasok, hingga kepercayaan dengan langganan (konsumen).
Kepercayaan yang dibangun oleh perbankan berupa pemberian kredit usaha yang diajukan oleh produsen yang disertai dengan agunan yang ditentukan oleh pihak bank. Pihak perbankan percaya bahwa produsen pengolahan taoge ini memenuhi syarat 5C (Character, Collateral, Condition of Economy, Capacity, dan Capital) sebagai penerima kredit usaha.
Kepercayaan kinerja terhadap tenaga kerja merupakan kepercayaan produsen terhadap karyawan. Kepercayaan ini menjadi respon positif dalam mengembangkan usaha pengolahan taoge dan menjadi hubungan sosial secara vertikal. Seseorang yang memiliki etos kerja yang baik, jujur, mampu bekerja sama dan komitmen dalam pekerjaannya memiliki reputasi yang baik dan lebih mudah dalam memperoleh penghargaan (reward) daripada karyawan yang bertabiat buruk. Pada umumnya pengusaha memberikan hadiah berupa daster atau peralatan memasak.
Kepercayaan dengan pemasok diwujudkan dalam kegiatan produksi pengusaha pengolahan taoge. Produsen menerima pemasok kacang hijau dari orang yang sama setiap bahan habis. Kepercayaan ini timbul disebabkan oleh harga yang diberikan minim atau lebih murah dan berkualitas bagus. Selain itu, komitmen dalam mengirim barang juga tepat pada waktunya yang menjadikan produsen merasa puas jika berlangganan dengan pemasok tersebut.
Kepercayaan dengan konsumen. Produsen pengolahan taoge memproduksi dengan kualitas bentuk dan rasa yang lebih enak akan menjadi langganan konsumen. Hal inilah yang menjadikan pemilik usaha mendapatkan profit yang menguntungkan. Selain itu, pelayanan yang ramah dan pemberian harga yang lebih ekonomis menjadi primadona tersendiri bagi konsumen pecinta taoge.
Indikator modal sosial yang ketiga diwujudkan dalam bentuk norma. Norma merupakan pemahaman, nilai, harapan, dan tujuan yang diyakini, disepakati, dan dijalankan kolektif oleh sekelompok orang yang dikomplementasikan dengan sanksi yang bertujuan melakukan tindakan preventif bagi individu yang melakukan penyimpangan dalam kehidupan masyarakat. Menurut Putnam dan Fukuyama, norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kolektif di masa lampau dan diimplementasikan guna mendukung iklim kerja sama.
Norma yang terbentuk dalam pengolahan  taoge di Desa Penambangan diaplikasikan dalam aplikasi paguyuban seperti pembagian pemasaran produk. Misalkan Bapak Nanang memasarkan output di Pasar Perning, Bapak Tono memasarkan produk taoge di Pasar Krian, Bapak Lim mendistribusikan produknya di Pasar Tarik, dan Bapak Arifin menjual taoge di Pasar Surungan, hubungan produsen dengan pegawai seperti halnya pembagian waktu dan tugas kerja, hubungan antara produsen dengan konsumen yang berkomitmen menjual produk yang bermutu dan tepat waktu dalam menjual produk, hingga korelasi dengan pemasok yang diwujudkan dalam pembayaran yang tidak terlambat dalam jangka panjang (unsur kesopanan).
Manifestasi modal sosial dalam gerilya usaha taoge di Penambangan ini memiliki hubungan yang harmonis dengan pendekatan ekonomi lainnya. Pengolahan taoge membutuhkan tenaga dari beragam kelembagaan yang ikut andil dalam membesarkan pangsa pasar dan peningkatan profit. Hal ini berujung pada pembangunan SDM berkualitas dengan cara terciptanya lapangan kerja. Dalam konteks makro, fenomena demikian mewakili pertambahan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia dari sektor konsumsi dan perpajakan. Pertambahan pendapatan memunculkan pertumbuhan konsumsi (impor) dan pembayaran pajak yang meningkat (pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, dan belanja barang yang mengandung pajak pertambahan nilai). Meskipun pengolahan taoge dijalankan pengusaha kecil, tetap memiliki eksternalitas. Salah satunya adalah eksternalitas positif yang berupa pemberian bonus bagi pelanggan dan tetangga saat keuntungan meningkat. Menjalani usaha pengolahan taoge juga tidak membutuhkan izin yang rumit dari pemerintah, sebab sumber daya yang digunakan mudah dijumpai dan diharapkan tetap berkelanjutan dalam menjalani roda perekonomian.

Comments

Popular Posts