LATIHAN GENBI MENULIS
Sebenarnya tulisanku kali ini udah dalam bentuk buku. Tahun 2018 kemarin kan aku ikut GenBI UINSA. Kegiatannya positif banget, salah satunya menulis. Kesempatan emas banget buat aku yang pengen mahir menulis dan bisa dipublikasikan. Meskipun tingkatannya nggak sebegitu luas sih, tapi ada kebanggaan gitu tulisan kita dibaca sama orang lain. Ya mudah-mudahan aja sih bisa jadi amal jariyah kita buat di akhirat nanti. karena berbagi ilmu itu amalan yang baik. Well langsung aja deh kuy baca karya aku selama di GenBI.
PARIWISATA URAT NADI KEPUASAN JIWA
Oleh: Dwi Aprilia Pavilawati/ UIN
Sunan Ampel Surabaya
“Waktu adalah hal termahal di
dunia. Sebab kau bisa membeli emas berlian, tapi tidak mampu membeli waktu yang
kau inginkan.”
Setiap manusia yang hidup
membutuhkan beragam piranti untuk tetap bertahan dan menjalankan roda kehidupan
yang senantiasa berdinamika. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam
berganti hari, hingga hari berganti bulan, manusia tetaplah menjadi makhluk berkodrat
tidak pernah merasa puas dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan jasmani
yang dulu menjadi andalan utama sebagai penopang hidup agar tetap menghirup
segarnya oksigen, seakan tak mampu mengendalikan kepuasan. Ada kebutuhan lain
yang seirama dan saling bersinergis untuk membantu menciptakan kepuasan pada
manusia, meskipun belum mendekati kesempurnaan. Itulah kebutuhan rohani.
Kebutuhan rohani dapat diartikan
sebagai kebutuhan pendamping hidup manusia yang dirasakan oleh naluri dan jiwa.
Pemenuhan kebutuhan rohani menjadi unsur yang tidak boleh diabaikan. Hal ini
berkaitan dengan kondisi psikis atau kejiwaan manusia tersebut. Segala hal yang
menjadi beban, akan berujung pada kesehatan psikologis yang akhirnya menjarah dan
mengganggu kesehatan jasmani pula.
Kebutuhan
rohani tergantung pada preferensi, bakat, dan minat, sehingga setiap orang
memiliki cara, definisi, atau implementasi yang berbeda dalam mengilhami makna
dari kebutuhan rohani tersebut. Pengaplikasian kebutuhan rohani akan
menciptakan rasa bahagia, puas, dan tentram yang mampu memacu semangat diri. Seperti
halnya pada suatu individu pecinta buku berargumen bahwa dengan membaca bacaan yang
bersifat fiksi maupun non fiksi dapat menentramkan pikiran, menenangkan hati,
hingga menambah wawasan (suplemen otak). Selain itu, bagi gamers memiliki persepsi bahwa kebutuhan rohani dapat dicapai
ketika berhasil memenangkan suatu game atau
permainan.
Upaya
pemenuhan kepuasan jiwa di atas tentu berseberangan dengan yang dilakukan oleh
mereka yang memiliki hobby “makan
angin”. Mereka akan meluapkan ekspresi kepuasan jiwa dengan berkunjung ke
daerah wisata. Bagi mereka pemenuhan kebutuhan rohani dapat diobati dengan
melihat tempat yang indah, sejuk, dan bebas dari bisingnya kendaraan. Misalnya
pantai, gunung, air terjun, maupun hutan. Rasa lelah dari rutinitas keseharian
seakan hilang dan mampu menyegarkan pikiran untuk memperoleh insiprasi baru.
Dewasa
ini menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata menjadi daya tarik utama seseorang
untuk melakukan pemenuhan kebutuhan rohani. Tempat yang unik, indah, dan
bernuansa alami seakan menjadi destinasi primadona dalam menghabiskan waktu
libur (akhir pekan). Pantai, gunung, taman hutan raya, tempat bersejarah
seperti museum, candi-candi, maupun situs purbakala menciptakan keindahan
ataupun daya tarik bagi konsumen atau wisatawan. Wisatawan yang berkunjung
tidak hanya menikmati eksotika dan keunikan yang melekat pada daerah wisata,
melainkan memiliki tujuan khusus yang berkaitan dengan kepuasan jiwa. Seperti
halnya berswafoto bersama, memunculkan ide-ide kreatif yang dapat dibubuhkan
dalam pekerjaan atau suatu karya seni, maupun membuat video aktivitas yang diunggah
ke media sosial atau yang dikenal dengan istilah ngevlog (video blogger).
Keberadaan
pariwisata dalam suatu negara tidak hanya berperan dalam pemenuhan kebutuhan
rohani masyarakat atau konsumen, melainkan sebagai urat nadi perekonomian
bangsa. “Urat nadi” dalam hal ini berkaitan dengan vitalisasi sektor pariwisata
dalam menunjang perekonomian suatu negara. Bahkan setiap negara di dunia
memiliki destinasi wisata yang diunggulkan untuk menarik wisatawan baik
domestik maupun luar negeri atau manca negara.
Pemerintah
setiap negara memiliki kebijakan khusus dalam pengembangan pariwisata, terutama
dalam hal branding atau promosi pariwisata. Hal tersebut
dilakukan bukan tanpa alasan. Sebab di era globalisasi ini, kemajuan ekonomi
suatu negara juga diukur dari seberapa besar jumlah jasa yang disediakan untuk
pemenuhan kebutuhan konsumen, terutama jasa pariwisata. Infrastruktur untuk
mengakses tujuan wisata, sarana dan prasarana penunjang kewisataan, dan
keamanan yang dikerahkan untuk menjaga area wisata patut diperhatikan oleh
setiap negara dalam upaya menarik minat wisatawan. Tujuan akhir dari upaya
tersebut adalah membangkitkan daya dan kekuatan ekonomi bangsa.
Peranan
positif dari adanya pariwisata dalam suatu negara tidak hanya dirasakan oleh
satu atau beberapa pihak, melainkan seluruh lini masyarakat, pihak swasta,
maupun pemerintah.
Bagi
pemerintah, keberadaan pariwisata dinilai memiliki profit atau keuntungan yang
mampu meningkatkan pendapatan nasional. Keuntungan ini tidak hanya dirasakan
oleh pemerintah pusat, melainkan otorisasi daerah juga terindikasi efek positif
tersebut. Pariwisata yang ada dalam negeri disertai dengan promosi yang gencar,
akan melahirkan magnet tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun
mancanegara untuk datang berkunjung. Kunjungan mereka akan diakumulasikan dalam
bentuk materi. Kedatangan wisatawan asing akan menambah cadangan devisa negara
yang dapat membantu pemerintah pusat dalam pembayaran utang luar negeri,
pengendalian inflasi dalam kisaran >30%, menjaga nilai tukar agar tetap
stabil, maupun mengatasi defisit pada neraca pembayaran ataupun neraca
perdagangan.
Berdasarkan
data penerimaan dari wisatawan mancanegara tahun 2000 – 2014 yang bersumber www.bps.go.id,
menyatakan bahwa pendapatan dari sektor pariwisata mengalami fluktuasi, namun
mengalami peningkatan yang signifikan (tertinggi) pada tahun 2014 dengan
perolehan terbesar 11,166.13 juta US$. Kondisi riil tersebut mengindikasikan
bahwa jasa pariwisata menjadi sektor yang menjanjikan dalam peningkatan
pendapatan nasional atau yang dikenal dengan PDB (Produk Domestik Bruto).
PDB
merupakan jumlah output yang dihitung selama periode tertentu di suatu negara. Pendapatan
yang diperoleh dari sektor pariwisata akan masuk ke dalam komponen perhitungan
PDB, terutama konsumsi (belanja wisatawan). Selain memperoleh suntikan cadangan
devisa dan pertambahan PDB dari adanya pariwisata, pemerintah juga diuntungkan
dengan adanya pajak-pajak yang berkaitan dengan pariwisata, seperti pajak atau
retribusi parkir, pajak pengelolaan kekayaan daerah, dan pajak pendirian usaha
pariwisata daerah.
Keberadaan
pariwisata juga menguntungkan masyarakat setempat. Pariwisata seakan menjadi
motivasi untuk berlomba-lomba menunjukkan kekhasan daerah yang bersangkutan.
Masyarakat juga terdorong untuk memanfaatkan peluang melalui kreativitas dan
inovasi yang dimiliki, mengurangi angka kemiskinan yang terjadi di daerah
tersebut, hingga meminimalisir angka pengangguran melalui usaha sektor informal.
Ketika
pariwisata di daerah tersebut dikenal luas oleh wisatawan, maka akan
memunculkan dorongan untuk membuka usaha kecil atau UMKM (Usaha Mikro Kecil dan
Menengah). Mereka akan menjual barang yang dibutuhkan oleh para pengunjung
pariwisata (wisatawan), seperti makanan khas daerah dan beragam cinderamata sebagai
buah tangan.
UMKM
berperan vital dalam pertumbuhan ekonomi negara. Apalagi hal ini didukung
dengan keberadaan pariwisata yang ada pada daerah itu. Merujuk pada data yang bersumber
dari www.bi.go.id,
UMKM menjadi tiang penyangga ketahanan ekonomi Indonesia. Hal ini dibuktikan
dengan UMKM Indonesia (terutama pada sektor perdagangan atau perniagaan) mendominasi
jumlah usaha yaitu sekitar 99,9% dari 55,2 juta unit, UMKM berhasil menyerap
sekitar hampir 100% atau 97,3% dari total agregat tenaga kerja, dan berhasil
berkontribusi dalam menyumbang PDB sebanyak 57,9%. Persentase tersebut mengintepretasikan
bahwa adanya UMKM mampu menciptakan peluang bagi angkatan kerja yang tidak
terserap oleh sektor ekonomi formal dan membantu perekonomian negara untuk
tetap stabil.
Kemandirian
ekonomi yang lahir dari upaya UMKM mampu dikembangkan menjadi usaha yang
bertujuan promosi ekspor. Produk yang mereka ciptakan, baik makanan maupun
cinderamata dapat diekspor ke luar negeri. Tentu saja upaya promosi ekspor
harus disertai dengan pengembangan kualitas yang mampu disandingkan dengan
produk-produk manca negara atau kelas internasional. Upaya ekspor ini tidak
hanya meningkatkan pendapatan produsen, melainkan menjadi metode promosi
pariwisata daerah.
Masyarakat
luar negeri yang membeli barang tersebut akan berpikir dan memiliki rasa ingin
tahu mengenai di mana produk ini diciptakan, siapa yang membuatnya, dan mengapa
daerah wisata memproduksi output tersebut. Dengan daya dukung kemajuan
teknologi, mereka mencari sumber informasi yang cukup mengenai produk tersebut
melalui kemudahan jaringan internet. Sehingga mereka akan tertarik dan datang
langsung ke tempat pembuatan dan berujung pada pengenalan daerah wisata
tersebut. Tidak hanya itu, promosi ekspor produk ini mampu menimbulkan
apresiasi nilai tukar rupiah, surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran,
hingga peningkatan eksistensi daerah wisata di lingkungan internasional.
Keuntungan
lain yang diperoleh masyarakat dari keberadaan pariwisata adalah akulturasi
kebudayaan. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya berasal dari satu daerah
saja, melainkan berbagai daerah bahkan lintas negara. Peluang ini dapat
menjadikan masyarakat setempat menjadi lebih maju, berpikiran terbuka atau open mainded, dan mudah untuk belajar
mengenai hal baru. Akulturasi budaya juga menjauhkan diri dari sikap
primordialisme dan etnosentrisme yang berlebihan. Sehingga dengan adanya
pariwisata, secara tidak langsung mengajarkan masyarakat untuk alih pengetahuan
dan teknologi, penambahan wawasan, peningkatan dalam berbicara bahasa asing,
hingga memunculkan sikap terbuka dan mau menerima perbedaan, terutama mengenai
perbedaan budaya, agama, maupun bahasa.
Peranan
sektor pariwisata juga menguntungkan pihak swasta. Keberadaan area wisata di
daerah menjadikan stimulus investasi menjadi lancar. Pihak swasta akan
membangun tempat penginapan berupa hotel maupun villa yang mampu menambah daya
tarik wisatawan untuk berkunjung. Selain itu, mereka dapat menginvestasikan
modalnya untuk meningkatkan revitalisasi tempat wisata baik berupa pemugaran,
perbaikan, dan perawatan area wisata untuk meningkatkan keamanan dan
kenyamanan. Upaya tersebut menjadi langkah berkelanjutan dalam menciptakan
kepuasan konsumen.
Investasi
yang dilakukan oleh pihak swasta mampu meningkatkan jumlah PAD (Pendapatan Asli
Daerah) dalam bentuk pajak daerah dan hasil keuntungan pengelolaan kekayaan. Sehingga
kemandirian usaha daerah dapat terwujud dan mampu menambah PDRB (Pendapatan
Domestik Regional Bruto) guna menjaga kemakmuran masyarakat, pemerataan
ekonomi, mencegah ketimpangan sosial, dan kestabilan keuangan daerah.
Kontribusi
lain pihak swasta dalam pengembangan sektor pariwisata adalah dengan cara menciptakan
jasa yang berbasis digital. Misalnya menciptakan aplikasi penyedia penginapan,
aplikasi penunjuk tempat eksotik, aplikasi yang menjual tiket liburan disertai
dengan promo tertentu, aplikasi pembanding harga penginapan sebagai rekomendasi
atau rujukan dalam penentuan kamar yang sesuai dengan anggaran yang tersedia,
hingga aplikasi-aplikasi serupa yang bermanfaat untuk meningkatkan kelancaran
dalam berwisata. Dengan adanya aplikasi tersebut dapat membantu konsumen untuk
menentukan jadwal dan tempat liburan tanpa kendala yang berarti. Sehingga
menciptakan efek positif pada kepuasan yang dirasakan konsumen.
Pemerintah,
masyarakat, dan swasta menjadi subjek yang mempengaruhi keberhasilan program
pengadaan pariwisata daerah. Keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan tersebut
sebagai pihak yang menciptakan “permintaan” dan media keberlanjutan pelaksanaan
kegiatan. Berwisata menjadi pemenuhan kebutuhan rohani yang mampu memberikan
dampak simultan dan memicu hubungan yang
bersifat mutualisme bagi segenap kalangan, baik pemerintah, masyarakat, maupun
pihak swasta yang akan berkolaborasi dalam upaya perbaikan seluruh aspek
ekonomi baik nasional maupun daerah.
Fenomena di atas melahirkan suatu keterkaitan
mengenai adanya ungkapan “pariwisata
sebagai urat nadi kepuasan jiwa dan perekonomian bangsa”. Kedua peranan di
atas tidak dapat dipisahkan, melainkan menjadi kesatuan yang saling
bersinergis.
Berwisata
tidak hanya menguntungkan dari sudut pandang ekonomi, melainkan sebagai obat
dalam menanggulangi stress sebab mampu
memancarkan pikiran dan energi positif dengan melihat keindahan tempat wisata,
berbelanja barang khas daerah wisata atau cinderamata sebagai buah tangan,
menambah pengalaman hidup, hingga menambah relasi baru dari adanya akulturasi
budaya dengan masyarakat mancanegara maupun wisatawan domestik lainnya.
Kepuasan
kebutuhan rohani dianjurkan untuk dipenuhi, sebab akan berdampak secara
signifikan terhadap kesehatan fisik. Penurunan daya tahan tubuh mempengaruhi
kinerja dan produktivitas kerja yang merambah pada kondisi perekonomian. Sehingga
memerlukan asupan (refresh otak) guna
mengembalikan daya kreativitas dan melahirkan inovasi yang baru.
BIODATA PENULIS
Lahir di Sidoarjo pada Hari Minggu, 5
April 1998 dengan nama lengkap Dwi Aprilia Pavilawati. Akrab dipanggil dengan
April. Putri tunggal dari Sugiman dan Ngatminah atau anak kedua dari
dua bersaudara. Mahasiswa semester 5 program studi Ilmu Ekonomi di UIN Sunan
Ampel Surabaya. Penerima beasiswa Bank Indonesia sejak Mei 2018 dan aktif
menjadi anggota GenBI Jatim Korkom Surabaya.Tinggal di Desa Bakung Pringgodani Dusun
Kendal RT 22 RW 03 Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo 61263. Memiliki
kegemaran membaca, terutama buku yang berkaitan dengan bidang ekonomi dan
sejarah, baik sejarah ekonomi, sejarah Indonesia, maupun sejarah dunia. Email: dwiapriliap@gmail.com, instagram: dwiapriliapav, facebook:
Dwi Aprilia Pavilawati.



Hai salam kenal April, tulisanmu menarik. Terstruktur, opininiya kuat, dan setiap fatka selalu kamu sajikan dengan data. Bagus loh kalau tulisan macam ini dibuat esai atau karya tulis Ilmiah--atau memang sudah dibuat?
ReplyDeleteWah makasih ya alhamdulillah. Udah di buku kan sih. Tapi pengen aja aku share 😁
Delete