KERINDUAN SEORANG HAWA KEPADA BAGINDA RASULULLAH

Bismillahirrahmanirrahiim.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, manusia agung yang dikasihi Allah.

Rasul yang terkasih...

Di bawah pelita kehidupan yang memancarkan cahaya terang, izinkanlah wanita ini menuliskan sebuah kerinduan kepada engkau. Wanita yang senantiasa menyulut nila hitam pada kain putih nan suci, wanita yang sepanjang waktu menghimpun kepahitan dalam madu yang manis, dan wanita yang hanya memiliki sebulir keimanan untuk mengutarakan isi hati melalui pesan singkat yang berisi kerinduan sedalam samudera, setinggi langit ke tujuh, ataupun sejauh masa lalu.

Adakah panorama kegelisahan jika seorang hawa seperti daku mencoba bercengkerama dengan manusia agung? Apakah diri ini masih pantas mengungkapkan perasaan rindu yang teramat sangat pada nabi besar seperti engkau? Lelaki yang dipilih Allah untuk menjadi suri tauladan yang baik bagi semesta alam, lelaki kepercayaan Allah untuk mengemban tugas besar nan suci bagi kesejahteraan manusia akhir zaman, dan kekasih Allah yang berakhlak sempurna dan tak pernah patah arang untuk menyebarkan Islam, agama yang sempurna di tengah kehidupan kami.

Ya Rasulullah...

Saya bersyukur kepada Allah yang sampai detik ini masih memberi kenikmatan luar biasa untuk berpijak di bumi-Nya yang kokoh, memandang langit berjuta bintang tanpa tiang, menyaksikan karya alam yang sungguh menakjubkan, merasakan sensasi sebagai insan yang berakal, hingga kesempatan untuk sedikit menulis sepucuk surat kepada Rasul akhir zaman-Nya agar kerinduan dalam dada akan kesempurnaannya sebagai manusia menjadi terobati. Terasa sesak di dada, namun bahagia ketika dirasa. Seperti indahnya jatuh hati, namun getaran kerinduan yang dirasa terasa berbeda.

Baginda Rasulullah...

Tatkala raga ini tak menyadari air mata mulai berkelana membasahi pipi, jantung berdegub kencang, syaraf jemari yang bergetar merangkai kata, hingga hati tak kuasa untuk mengurai pesan kepada sang manusia agung. Kata demi kata terangkai dalam sebuah kalimat, terhubung dalam kesatuan pujian keindahan. Perlahan saya tulis segala kerinduan kepada Rasul Allah. Akhlak yang begitu mulia, kecerdasan yang melebihi ilmuwan modern, keikhlasan tiada batas, kegigihan yang tak seberat gunung, hingga kejujuran yang tiada terbilang. Mulutpun terkunci. Seakan tak mampu mengisahkan perihal apa yang patut untuk baginda. Bukan suatu keburukan, melainkan kebaikan yang sulit dikata lidah tak bertulang ini.

Wahai baginda Rasulullah...

Mata tak lagi mampu memandang,  gendang telinga tak lagi mampu mendengar, dan lidah tak mampu lagi berucap. Itulah yang tengah saya rasakan. Mata yang tak sempat melihat rupa manusia agung, telinga yang tidak sempat mendengar suara indah baginda, dan lidah yang tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk berbincang kepada engkau. Terkadang, saya iri dengan mereka yang sempat menyaksikan baginda mensiarkan agama Allah. Alangkah beruntungnya mereka. Mereka dapat melihat rupa kekasih Allah, mendengar suara engkau yang menjadi dasar hukum umat Islam kedua, maupun berbincang untuk menelaah ilmu agama yang tentunya tidak menimbulkan keraguan sedikit pun. Sebab, setiap perkataan, perbuatan, maupun ketetapan beginda berporos pada mukjizat terbesar engkau, Alquranul Karim.

Nabi Muhammad yang dikasihi Allah...

Sedari dulu saya tidak menyukai kata “seandainya”. Saya benci dengan perkataan dan mendengar kata tersebut. Namun, berbeda jika saya dalam keadaan yang teramat rindu akan kemuliaanmu. Seandainya Allah memberi kesempatan hidup saya 14 abad yang lalu, seandainya saya bisa melihat engkau, seandainya saya mampu belajar agama kepada engkau, seandainya saya diciptakan sebagai seorang  lelaki layaknya para sahabat agar sepanjang hari bisa menghabiskan waktu bersama engkau untuk berdakwah dan berhijrah, seandainya saya salah seorang wanita yang sempat engkau nikahi di jalan Allah. Seandainya, seandainya, dan seandainya saya mampu seperti itu.

Baginda...

Di sepertiga malam saya mengadu pada Allah untuk mengungkapkan kegelisahan dan kerinduan yang teramat sangat. Setiap setelah fardhu saya memanjatkan seuntai doa agar kelak bertemu dengan manusia yang begitu mulia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Betapa riang dan gembiranya ketika sebuah pengharapan berubah menjadi kenyataan yang begitu sempurna.

Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam...

Meskipun Allah menggariskan hidup kepada saya 14 abad setelah zaman engkau, tetapi Dia telah memberi kesempatan kepada saya untuk terlahir ke dunia yang fana ini dalam keadaan Islam. Subhanallah. Saya bersyukur kepada Allah. Berselang beberapa detik setelah saya melihat dunia untuk yang pertama kali, seorang lelaki yang saya panggil “Ayah” memperkenalkan Islam. Dia membisik perlahan dengan hati yang penuh kerelaan.  Suaranya indah, halus dan lembut. Perlahan pria itu mengumandangkan adzan di telinga saya. Sejak saat itu saya resmi menjadi gadis kecil yang memeluk agama Islam. Agama yang dirahmati Allah dan agama yang lahir di negeri Arab.

Wahai Rasulullah...

Entah mengapa Allah menggariskan hidup saya untuk terlahir dari pasangan muslim yang saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi. Terlebih dari itu  saya merasa senang menjadi salah satu dari milyaran umat engkau. Umat yang senantiasa memuji Allah setiap hari, umat yang berpedoman dari satu mujizat terbesar engkau, umat yang selalu berusaha berbuat baik, dan umat yang akan selalu bangga memiliki suri tauladan yang baik dan rahmat bagi semesta alam.

Duhai Kekasih Allah...

Sedikit yang mampu saya sampaikan. Izinkan raga ini untuk bermetamorfosa menjadi wanita baik dari umatmu. Terimalah rasa kerinduan ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

NOTE:

Tulisan ini adalah karya pertama saya yang dibukukan. Alhamdulillah saya menjadi kontributor nomor 8 dari 25 dari tulisan ini. Tujuan penulisan ini adalah untuk memperingati hari kelahiran Sang Manusia Agung, Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan membaca tulisan ini bisa mendekatkan diri dan meningkatkan iman pada Rasul Terakhir Allah SWT ini. Aamiin. SALAM LITERASI. 












Comments

Popular Posts