CERPEN: ASMARA PENGHUJUNG PUTIH BIRU

 

Sertifikat Kontributor Lomba Cipta Cerpen 2017

ASMARA PENGHUJUNG PUTIH BIRU
Oleh: DWI APRILIA PAVILAWATI

Embun pagi yang menyejukkan jiwa. Jalanan yang masih sepi dari beragam kendaraan. Suasana tenang dan damai seperti hidup di pegunungan yang melingkar. Andaikan saja keadaan siang hari di Kota Solo seperti pagi ini. Rasanya menjadi angan yang mustahil. Bagaimana mungkin siang hari di Solo tropis menjelma seperti udara yang ada di Oslo?

Pagi ini aku merasa begitu bersemangat. Jiwaku seakan terbakar dan mengobar. Sebentar lagi putih biru yang kukenakan setiap Senin dan Selasa kan segera terganti dengan seragam putih abu-abu. Ternyata masa semakin bergulir cepat. Tak ku sangka sudah kelas 9 dan bersiap mempersiapkan masuk SMA. Ku bergegas merapikan seragam dan menikmati sarapan sehat buatan koki terhebat di rumah ini, ibuku. Keluarga kami beranggotakan empat orang. Mereka adalah ayahku, kakakku, ibuku, dan aku.

“Ibu, kemana ayah dan kakak?” tanyaku pada ibu saat duduk di ruang makan. “Ayah sama kakak sudah berangkat sejak pagi. Maklum jarak ayah ke pabrik dan ke kampus kakak sering kena macet.” jawab Ibu. Ku percepat sarapan pagiku dan berpamitan berangkat pada Ibu. “Ibu, Ariana sekolah dulu.” Ucapku sembari mencium tangan Ibu.”Hati-hati di jalan.” jawab ibu.

...

10 menit perjalanan dari rumah ke sekolah akhirnya aku sampai di singgasana pengetahuan. Tempat yang sebentar lagi ku tinggalkan. Tempat yang menyajikan hal-hal baru dan setiap kenangan di sudut ruang takkan hengkang oleh masa. Taman bunga yang biasa menjadi teman cengkerama dengan para sahabat tak lama lagi menjadi asing bagiku. Lapangan tempat kami menari bersama keringat tak lagi melihat dan menyapa. Rasanya sedih sekali jika memikirkan hal itu. Tiba-tiba terdengar suara yang mengoyak lamunanku. “Ariana!!” teriak Dista.

Dista adalah sahabatku sejak masa menengah pertama. Dialah orang pertama yang ku kenal sejak masa orientasi. Dista anak yang baik, ramah, tak membeda-bedakan dalam berkawan, ahli masalah percintaan, dan berprestasi rendah. Namun, aku menyayanginya dan sudah ku anggap seperti saudara sendiri.

“Haduh bisa tidak sih tidak mengagetkan aku?”. “Maaf deh gitu aja marah. Kemarin aku kencan sama cowokku di alun-alun. Nih aku bawakan buah mangga. Dia beli banyak untuk keluarganya. Aku dikasih juga. Berhubung aku tak terlalu suka mangga, jadi buat kamu aja deh Na.” ujar Dista sembari memberiku sekantong plastik berisi mangga. “Wah terima kasih. Pacarmu baik ya sama kamu?” jawabku. “Iya dong. Kalau bisa kamu cari pacar biar bisa sepertiku.” balas Dista. “Kamu kan ahlinya cinta. Bisa membuat semua lelaki terpesona denganmu. Pacar aja nggak cukup satu. Hahaha.” candaku. “Hahaha udah deh. Jadi malu aku.” jawab Dista.

Ada rasa trauma yang membuatku enggan merasakan jatuh cinta lagi. Sebuah kepahitan dan kekecewaan yang mengiris hatiku hingga hancur. Aku pernah jatuh hati dengan remaja pria lain. Bahkan dia adalah cinta pertamaku di masa putih biru. Menurutku dialah cinta monyet yang paling berkesan dalam hidup. Tidak hanya keindahan yang ia rangkai, melainkan pula luka yang mampu meredam jiwaku. Membuatku patah hati sepatah-patahnya dan memutus urat jatuh hatiku. Sejak saat itu aku bertekad menghiasi masa remaja dengan belajar dan menambah wawasan. Tapi jauh dari lubuk hatiku, aku berharap seseorang mau menyelamatkanku dari jurang nestapa ini. Memberikanku secuil harapan untuk bangkit dan merubah stigma bahwa semua lelaki tidak sama.

Kami saling mengobrol tak terasa sudah sampai di depan kelas. Kami tak pernah kehabisan kata-kata dalam bercengkerama. Dista sahabat yang paling mencemaskanku ketika aku sakit dan terkena musibah. Dia tak pernah bosan menjadi gudang curahan hatiku. Dia juga sering menasihatiku agar mau membuka hati pada lelaki lain. Di samping belajar, apa salahnya jika melupakan masa lalu yang menyakitkan? Bukankah setiap insan memiliki pasangan yang tak hanya menyakiti namun juga memberi semangat?

“Aku perhatikan Ferdi dari tadi melihat ke arahmu terus Na.” ucap Dista. “Memang benar ya? Haduh aku jadi risih begini.” ujarku. “Ya ampun aku lupa kemarin Ferdi sms aku. Dia minta nomormu. Aku kasih aja dia. Aku tanya buat apa dia malah tidak membalas.” jawab Dista. “Harusnya kamu kan bisa tanya aku dulu Dis. Kebiasaan deh. Main hakim sendiri.” jawabku sambil marah. “Iya deh maaf. Lagipula kamu sama dia kan jomblo. Siapa tahu bisa jadi...”. “Jadi apa?” jawabku melotot. “Hehehe nggak jadi.” jawab Dista meledek. Kring...kring...kring... Bel masuk berbunyi.

...

Setelah shalat Isya adalah waktu yang sesuai untuk belajar. Apalagi sebentar lagi ujian nasional jadi harus fokus supaya lulus dengan nilai maksimal dan masuk SMA yang aku idamkan. Dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim ku memulai membaca buku dan latihan mengisi soal. 30 menit kemudian terdengar bunyi SMS masuk. Nomor tak dikenal menyapaku. “Ariana.”. “Siapa ini?” pikirku. Ku coba melanjutkan belajar dan tak menggubris pesan tersebut.  Tak lama kemudian terdapat sms masuk lagi. “Ini aku Ferdi, Ariana.” isi pesan itu. “Iya ada apa Ferdi?”. “Aku ingin sms kamu saja.” balas Ferdi hingga tanpa sadar aku tertidur tak mengindahkannya.

...

Sejak hari itu, Ferdi semakin sering memberiku pesan singkat lewat SMS. Menanyakan kabarku, memberiku perhatian, mengingatkan ibadah, dan belajar, dan mengajakku bercengkerama membahas pelajaran walaupun hanya melalui pesan elektronik. Semakin lama kami menjadi terbiasa menghabiskan waktu untuk saling berbalas pesan melalui HP. Tetap kami tak lupa akan kewajiban kami sebagai seorang pelajar yang sebentar lagi menghadap ujian nasional.

Di sekolah kami sering berpapasan. Ferdi di dunia nyata dengan di SMS sangat berbanding terbalik. Melalui pesan SMS Ferdi memiliki sikap yang ramah, mudah diajak bercanda, dan tak pernah kehabisan kata dalam memulai komunikasi. Sedangkan bila di dunia nyata, sikap seperti itu kian sirna dan bukan menunjukkan Ferdi biasanya. Dia sangat dingin dan tak pernah menyapa ketika saling berpapasan. Aku pun juga begitu. Kelas kami memang saling berdekatan namun baru beberapa hari yang lalu kami mulai saling mengenal lebih jauh. Dia mengerti sikapku, kesukaanku, maupun keluargaku. Aku pun juga begitu mengerti kondisinya.

Suatu siang saat akan memulai bimbingan belajar. “Ariana, sholat dhuhur yuk?” ajak Dista. “Tumben ngajak sholat? Biasanya aja ngajak ngobrol tentang cowok mulu.” ledekku. “Sahabatnya ingin berubah jadi lebih baik masa tidak boleh?.”. “Haduh bercanda Dis.” jawabku sambil tertawa. Di masjid sekolah secara tak sengaja ku melihat Ferdi lebih dulu melaksanakan sholat dhuhur. Hebatnya lagi dia menjadi imam dan memimpin doa. Sejujurnya baru kali ini aku memiliki hubungan dekat dengan lelaki yang baik perangainya. Dia menjaga sholat lima waktu, mengingatkan belajar, dan menghargai waktu. “Mungkin saja dia memiliki rasa malu ketika berjumpa denganku.” pikirku.

Hubungan kami terjalin semakin dekat. Ada rasa yang berbeda kali ini. Ferdi yang awalnya menyebalkan bagiku menjelma sebagai pria yang mampu meluluhkan hatiku. Rasa indah yang begitu menyesakkan dada, takut kehilangan, bahagia ketika saling bertanya kabar, perasaan nyaman, dan selalu merindu walau setiap hari berjumpa. Dia mampu membuktikan kepadaku bahwa tak semua lelaki itu sama. Ferdi berbeda dari yang lain. Di saat remaja pria lain asik nongkrong di warung kopi dan merokok, dia lebih memilih pulang untuk belajar dan membantu orang tua. Tak heran jika Ferdi lebih pandai dariku. Nilai akademiknya selalu di atas 85. Untuk pertama kalinya aku bangkit dari keterpurukan. Ferdi hadir untuk menolongku dari jurang nestapa. Memberikan kebahagiaan dan menghiasi masa remajaku dengan keindahan. Positif! Aku jatuh cinta padanya. Namun aku tak tahu apakah dia merasakan hal yang sama denganku.

Jatuh cinta padanya lantas tak membuatku kurang bersemangat dalam belajar. Ferdi mampu memberikanku semangat yang berkobar dan tak kunjung padam. Aku semakin rajin beribadah, rajin belajar, membantu orang tua, dan fokus pada masa depan.

...

Ujian Nasional telah tiba. “Ayah, Ibu, Kakak. Ariana minta doa restu agar UN tahun ini dapat lulus dengan nilai yang memuaskan dan masuk SMA yang aku impikan.” ujarku sambil mencium satu persatu tangan Ayah, Ibu, dan Kakak. “Ayah dan Ibu merestui Ariana.” ucap Ayah. “Ibu doakan agar kamu mudah dalam mengerjakannya.” kata Ibu. “Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Jangan mempermalukan Kakak.” ucap Kakak dengan tos tangan denganku. Ku berkata iya dan tersenyum. Tiba-tiba bunyi SMS masuk dari Ferdi. “Selamat pagi Ariana. Hari ini adalah hari penentuan. Jangan gugup dalam mengerjakan. Berdoalah pada Allah. Jangan pikirkan nilai, yang harus kamu pikirkan adalah menjawab soal dengan sungguh-sungguh. Semangat!”. Isi pesan tersebut membuatku tersenyum semangat.

...

Pengumuman ujian nasional telah berkumandang. Dengan restu Allah dan keluarga akhirnya aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Begitupun dengan Dista yang menangis terharu akan keberhasilannya lulus dengan nilai yang baik meskipun selama ini dipandang sebagai siswa yang berprestasi rendah. Hari itu juga untuk pertama kalinya Ferdi berani menemui secara langsung. Dia mengajakku ke taman depan kelas. Hatiku berdebar kencang. Tak biasanya bahkan sangat langka Ferdi berani menemuiku.

“Ariana aku mau bilang. Selamat ya atas kelulusan kamu.” ucap Ferdi. “Di penghujung masa SMP ini aku juga mau bilang sama kamu. Aku suka sama kamu sejak masa orientasi siswa. Waktu itu kita sekelas. Mungkin kamu lupa sebab kamu hanya lebih mengenal Dista. Pertama kali ku lihat bahwa kamu gadis yang cantik, baik, ramah, pandai, dan tidak suka membandingkan dalam berteman. Kamu juga tak pernah genit sama teman laki-laki.” lanjut Ferdi. “Ferdi, kalau kamu suka sama aku mengapa baru sekarang kamu ungkapkan? Kamu juga tak pernah menegurku ketika berpapasan? jawabku sambil terbata-bata dan jantung berdegup kencang. “Aku hanya memantaskan diri untuk bersanding denganmu. Aku gugup dan berdebar. Sebentar lagi kita tidak bisa berjumpa setiap hari karena SMA kita berbeda. Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku?” ujar Ferdi. Hatiku sangat berdebar kencang dan langsung ku jawab “Aku juga jatuh hati padamu. Tapi maaf Ferdi aku tidak bisa.”. “Mengapa Ariana? Bukankah kita saling menyukai?” jawab Ferdi dengan raut wajah kebingungan. “Ferdi kalau kita saling menyukai bukan berarti harus berpacaran bukan? Kita bisa menjadi teman dekat. Aku takut jika kita berpacaran akan berakhir tanpa kejelasan. Aku mohon hormati keputusanku.” ujarku. “Jika maunya Ariana begitu, aku juga bahagia. Intinya aku sudah mengungkapkan semua isi hatiku.” ujar Ferdi yang ku balas dengan senyuman.

Perpisahan itu adalah perpisahan termanis dalam hidup. Taman bunga terindah di sekolah menjadi saksi bisu kisah asmaraku dengan Ferdi meskipun aku memutuskan untuk tidak menjadi kekasihnya. Sebenarnya rasa trauma akan cinta masa lalu masih menyayat hati. Rasa takut selalu menghantui jika Ferdi berpaling dengan gadis lain dan menjalin perjalanan asmara dengannya. Aku berusaha berkomitmen untuk diri sendiri dan masa depan. Biarkanlah masa menuntun kemana arah cinta ini berlabuh. Aku yakin semesta kan berlaku adil untuk hidupku. Tugasku dan Ferdi hanyalah membuktikan bahwa perasaan suci ini tak pernah saling mengingkar dan menusuk. 8 tahun sudah hubungan kami berlangsung sebagai sepasang manusia yang saling mencintai walaupun sempat berada pada tempat yang jauh di bumi. Hingga Allah menjawab semua doa kami dan merestui hubungan kami ke jenjang pernikahan. Delia Ariana Putri binti Sulaiman dinikahi dengan mahar seperangkat alat sholat di Hari Jumat pagi oleh pemuda bernama Ferdi Jefri Adian. Ferdi menjadi imam dalam keluarga yang begitu memperhatikanku dan menyayangi anak-anak kami. Asmara di penghujung putih biru yang menuju keabadian. Hanya maut yang mempu meretakkan genggaman asmara ini.

SALAM LITERASI!





Comments

Popular Posts