KESUNGGUHAN DAN PENGABDIAN

Ini adalah sebuah cerita pendek berdasarkan kisah nyata. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini. Aamiin.

Sebuah perjalanan hidup yang mengisahkan tentang kesungguhan dan pengabdian dari seorang hawa yang berhati lembut. Seorang wanita penuh dedikasi tinggi. Pencapaian yang penuh perjuangan hingga tubuh tak mampu merasakan derasnya laju darah. Tanpa pengharapan, balas jasa, dan imbalan. Seorang murid teladan dari guru BK (Bimbingan Konseling) saya di masa putih abu-abu yang terasa indah menusuk kalbu. Sebut saja Ayudia Merry Faradina.

Ayudia, begitulah para insan memanggilnya. Gadis belia berusia 18 tahun yang memiliki cita-cita menjadi seorang pengajar murid berkebutuhan khusus. Di saat teman sepermainannya mengharapkan profesi yang berprestisius seperti dokter, pengacara, akuntan, duta besar negara, hingga manajer tetapi Ayudia lebih memilih menjadi guru di sekolah luar biasa. Baginya sebuah profesi bukan hanya menyibukkan kita untuk urusan duniawi dan mencari penghasilan tinggi semata, melainkan sebuah kewajiban untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Berprofesi sebagai tenaga pendidik anak berkebutuhan khusus menyajikan sensasi yang luar biasa dalam menjalankan suatu pekerjaan. Ia merasa senang dan lega untuk membagi ilmu pengetahuan kepada mereka meskipun dengan penyajian yang membutuhkan kesabaran ekstra tinggi.

Ayudia tidak hanya berparas cantik dari luar. Ia memiliki kecantikan abadi dari dasar hatinya yang membuat siapapun memandangnya menjadi terpesona (inner beauty). Sedari kecil, ia memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti suka menolong orang lain yang membutuhkan dan menjadi donatur di suatu daerah yang terkena bencana alam. Jiwa sosial tersebut mulai terlihat ketika masih belajar di masa Taman Kanak-kanak (TK) yang pada waktu itu secara spontan menolong temannya yang jatuh dari sepeda. Temannya menangis sekencang-kencangnya karena kesakitan dan saat itu pula hati nurani Ayudia tergugah untuk menenangkan dan mengobati luka dengan cara yang ia ketahui.

Ayudia sangat menyukai anak-anak. Mereka adalah makhluk kecil tak berdosa dan menggemaskan. Begitulah kata Ayudia ketika ditanya mengapa begitu mencintai anak-anak. Bahkan pernah pada suatu masa ia menggunakan uang tabungannya untuk didonasikan kepada anak penderita kanker. Tak masalah jika tabungan habis yang terpenting adalah nyawa dan kesehatan anak-anak tersebut. Walaupun uang yang disumbangkannya belum mencukupi untuk biaya kesembuhan, setidaknya ia mampu meringankan beban derita si kecil penderita kanker.

Tak peduli bagaimana kondisi fisik seorang anak. Ayudia tak membedakan dalam memberi kasih sayang kepada anak-anak. Mereka yang berfisik kurang sempurna, senakal apapun, ataupun kondisi pemikiran yang tak seperti kebanyakan anak di luar sana yang normal, Ayudia tetap menyayangi mereka.  Ketika Ayudia berusia 10 tahun, duduk di kelas enam SD lebih tepatnya. Ia menjumpai seorang anak lelaki yang tunarungu tengah dimarahi oleh ayahnya di pinggir jalan dekat sekolah. Anak itu dicubit, dipukul, bahkan ditendang tanpa sebab yang tak diketahui Ayudia. Ayudia yang masih sangat muda saat itu tak mampu berbuat apapun dan harus melihat hal di luar kebiasaannya. Sangat menyakitkan dan begitu mengerikan. Ayudia kecil tak dapat membela anak lelaki tersebut. Hati kecilnya terenyuh dan ingin sekali membantu. Hanya menangis yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan bahwa sebenarnya ia ingin memberontak dan membela anak kecil itu. Tapi apa daya? Ia terperangkap dalam raga mungil yang tak memiliki tenaga yang mumpuni untuk membela anak lelaki itu dari cengkeram ayahnya yang kejam. Sejak saat itulah ia mulai menanamkan dalam hatinya ingin berbuat lebih kepada anak yang berkebutuhan khusus. Bukankah setiap anak adalah anugerah yang harus dikasihi?

Secara akademisi Ayudia tidak terlalu pandai jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Ia tergolong murid yang lemah dalam semua mata pelajaran. Namun, semenjak ia duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) dan masuk jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) ia mulai bersemangat untuk mempelajari ilmu sosiologi. Ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang nilai, norma, gejala-gejala, fenomena-fenomena, dan perubahan-perubahan yang ada dalam kehidupan masyarakat.  Ilmu ini menjadi maskot mata pelajaran utama dalam menopang jurusan IPS di SMA.

Rasa ingin tahu Ayudia terhadap mata pelajaran sosiologi mampu membuatnya menjadi lebih peka terhadap segala hal yang menyangkut kemasyarakatan. Ia menjadi lebih simpatik dan empatik jika terjadi hal yang membuatnya terharu sehingga tergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ia akan memiliki rasa bersalah jika tidak terlibat untuk membantu mereka yang terkena musibah. Sehingga dengan segala kekuatan dan daya yang ia miliki digunakan untuk meringankan beban kesedihan yang mereka derita. Ayudia sangat menyukai mata pelajaran sosiologi. Sebab, sosiologi adalah perantara Ayudia dalam menemukan jati diri dan mantap untuk menjadi seorang guru SLB (Sekolah Luar Biasa).

Setelah lulus SMA, Ayudia semakin yakin bahwa ia ditakdirkan hidup ke dunia menjadi pengajar anak berkebutuhan khusus. Ia berencana untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Malang dengan jurusan Pendidikan Luar Biasa S1. Setiap hari Ayudia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar agar lolos dalam mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru. Tak lupa ia berdoa kepada Sang Tuhan agar keinginannya terkabul. Memunajatkan segala pengharapan di sepertiga malam dengan mencucurkan air mata juga tak luput dari kesehariannya yang menunjukkan seberapa kuat keteguhan hatinya untuk berbagi ilmu dengan anak berkebutuhan khusus.

Keinginan Ayudia mendapat pertentangan dari orang tuanya. Mereka tidak menyetujui tentang harapan Ayudia menjadi seorang guru SLB. Mau jadi apa setelah lulus jika mengambil jurusan pendidikan luar biasa? Apakah prospek kerjanya bagus di masa depan? Apa masih ada peluang menjadi guru SLB padahal jumlah sekolah tersebut tidak sebanyak jika dibandingkan dengan sekolah umum lainnya? Itulah sederet protes ketidaksetujuan dan ketidaksepahaman orang tua Ayudia mengenai cita-citanya. Mereka lebih senang apabila Ayudia mengambil jurusan manajemen agar mendapat pekerjaan dengan mudah di segala tempat seperti perbankan, kantor pemasaran, ataupun perusahaan. Ayudia menangis dalam batin dan berusaha menjelaskan dengan sebaik mungkin bahwa pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Apabila kita mau berusaha dan bekerja dengan hati yang tulus ikhlas pasti Allah SWT akan menunjukkan jalan yang terbaik dan rejeki sudah diatur oleh-Nya. Ada tidaknya peluang kerja menjadi guru SLB tidak mematahkan semangat Ayudia untuk semangat belajar dan teguh pada pendiriannya. Satu hal yang paling penting adalah niat menuntut ilmu pengetahuan di jalan yang benar dan sesuai dengan minatnya.

Selama ini ia selalu menuruti perintah orang tuanya dalam hal kebaikan. Namun untuk pertama kalinya ia menolak dengan tegas dan tetap pada pendiriannya mengambil jurusan pendidikan luar biasa. Dengan berat hati, akhirnya orang tuanya rela dan ikhlas membiayai kuliah Ayudia hingga menjadi seorang guru SLB. Mengingat Ayudia selalu menjadi anak yang penurut, tidak suka membantah, bertutur kata lembut, rajin beribadah, dan perhiasan satu-satunya di keluarga ini.

Pengumuman masuk mahasiswa baru di perguruan tinggi telah berkumandang di berbagai media. Akhirnya Ayudia masuk pada jurusan yang ia idamkan selama ini. SELAMAT! AYUDIA MERRY FARADINA DITERIMA PADA JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG. Tak henti ia mengucapkan syukur kepada Sang Khalik atas amanah yang telah Dia berikan. Ayudia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar lebih giat dan tekun. Ia mencium kedua orang tuanya sembari mengucapkan rasa terima kasih atas doa yang selama ini mereka panjatkan terkabul.

Semangat Ayudia dalam menekuni bidang pendidikan luar biasa semakin berkobar meskipun banyak hujatan yang ia terima dari berbagai teman dan kerabat. Segala penghinaan dan cacian maki hampir setiap hari ia terima saat di rumah. Namun, semua hal tersebut tidak membuat kendor keteguhan Ayudia. Bahkan menjadi sebuah cambukan untuk termotivasi dalam belajar. Ayudia semakin dibuat keranjingan dengan pembelajaran jurusan tersebut. Berbagai teori yang dikemukakan oleh dosen diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ia juga suka menjalani praktik bahasa isyarat. Gerakan-gerakan yang diperagakan oleh dosen tak luput dari pandangannya. Setiap langkah ia pandang dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan saat berkomunikasi dengan kaum tunarungu. Ya Allah, betapa aku beruntung mendapat kesempatan belajar bahasa isyarat tanpa paksaan. Batin Ayudia dalam hati.

Selama kuliah Ayudia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi. Ia sadar bahwa selama ini lemah dalam menyerap hampir semua mata pelajaran di SMA. Namun ia memiliki tekad yang kuat untuk berusaha semaksimal mungkin agar menguasai mata kuliah. Sebab untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter kepada anak yang berkebutuhan khusus   harus disertai dengan penguasaan teori dan praktik yang mumpuni. Ia rajin mengikuti berbagai seminar mengenai anak berkebutuhan khusus, talkshow dengan kaum tuna rungu yang menggunakan bahasa isyarat penuh selama acara berlangsung, aktif berinteraksi dengan dosen menggunakan bahasa isyarat dengan tujuan memperdalam pemahaman lebih lanjut, hingga praktik langsung berkomunikasi dengan kaum tunarungu. Pada awalnya terdapat kesulitan, namun Ayudia mencoba beberapa kali dan menjadi kebiasaan.  Ayudia mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Universitas Negara Thailand yang membuka jurusan pendidikan luar biasa.

Berbagai prestasi yang ia peroleh semasa kuliah tetap belum mampu membuat orang tuanya berkesan. Secara tersurat orang tuanya menyetujui keinginan Ayudia, namun jauh dari lubuk batin terdalam mereka menginginkan Ayudia belajar ilmu manajemen. Tetap saja semangat Ayudia tidak luntur. Malah semakin menjadi-jadi untuk membuktikan bahwa pendidikan luar biasa adalah jurusan yang mengantarkan kesuksesan hidup kepadanya. Ayudia semakin berusaha, berusaha, dan berusaha,

Alhasil Ayudia berhasil menjadi lulusan sarjana pendidikan luar biasa terbaik dalam waktu 3,5 tahun dengan cumlaude IPK yang hampir sempurna, 3,93. Nama yang kini bersanding dengan gelar sarjana pendidikan tak membuatnya lekas besar kepala. Bahkan semakin merendah ketika melangit. Dengan prestasi yang ia peroleh membuatnya memperoleh kesempatan beasiswa S2 (Strata 2) pendidikan luar biasa di universitas yang sama dan akan diangkat menjadi dosen tetap pendidikan luar biasa setelah lulus. Hal tersebut membuat orang tuanya sadar bahwa bidang pendidikan luar biasa adalah suatu keahlian yang dimiliki oleh putri kecil kesayangannya. Jiwa sosial Ayudia tak lepas dari keinginannya untuk bergelut di bidang keilmuan ini. Kegigihan dan usaha sekuat baja membuat Ayudia mampu membuktikan bahwa menjadi tenaga pengajar anak berkebutuhan khusus  adalah yang terbaik dalam hidupnya. Walau pada awalnya ia berambisi untuk menjadi guru SLB tetapi Allah SWT telah menadirkan hidupnya lebih baik dari apa yang diinginkan, yaitu menjadi dosen pendidikan luar biasa yang mengajar mahasiswa dengan fisik dan pikiran yang normal bukan siswa dengan kebutuhan khusus. Ayudia juga tak perlu bingung mencari pekerjaan setelah lulus sebab pekerjaanlah yang menjemputnya dengan suka cita.

Itulah buah kesungguhan dan pengabdian yang dilakukan oleh seorang gadis bernama Ayudia. Ketulusan dan keihklasan hati dalam menuntut ilmu membuahkan hasil yang begitu maksimal. Ketika kita memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan suatu pengharapan, maka yang dapat dilakukan adalah berjuang dengan sekuat hati dan tenaga untuk mewujudkannya. Tak peduli seberapa hina dan rendahnya dirimu di mata orang lain, haruslah menjadi cambuk motivasi tersendiri bagimu. Sebab ujaran kebencian orang lain yang ditujukan kepada kita adalah urusan mereka. Urusan kita adalah membuktikan bahwa jati diri kita tidak serendah apa yang dipikirkan orang lain. Menuntut ilmu yang terpenting adalah bukan suatu pencapaian, melainkan seberapa besar kita mampu menguasai dan mengimplementasikan dalam kehidupan kita.

Kesuksesan yang hakiki bukan terlihat dari profesi kita sebagai dokter, pengusaha, pilot, ataupun guru. Melainkan sukses yang sebenarnya adalah ketika kita berhasil mewujudkan harapan kita. Dengan kata lain, sukses versi kita sendiri adalah kesuksesan yang sesungguhnya. Semoga dari kisah perjalanan hidup seorang Ayudia dapat mengajarkan kepada kita mengenai komitmen diri akan pengabdian dan meningkatkan iman pada Tuhan dengan bertawakkal.

SELESAI

SALAM LITERASI

Penulis

Sertifikat Kontributor

Comments

Popular Posts